Sabtu, 09 Desember 2017

Belajar dari Cempaka dan Dahlia

Beberapa waktu lalu berkembang siklon Cempaka dan Dahlia yang melewati wilayah Indonesia khususnya samudra Hindia. Dampaknya siklon tersebut khususnya Cempaka menyebabkan cuaca yang sangat buruk dan hujan ekstrim di beberapa tempat di wilayah kita. Hujan ekstrim tersebut menyebabkan wilayah Yogyakarta (DIY) dan Pacitan Jawa Timur mengalami banjir besar. Banyak sungai meluap dan banjir dimana-mana. Sarana dan prasarana umum banyak yang rusak bahkan menyebabkan korban jiwa. Sebagian wilayah putus hubungan dengan wilayah yang lain karena jembatan permanen dan semi permanen putus. Tidak sedikit rumah yang hanyut terbawa banjir. Longsor juga banyak terjadi. Penerbangan banyak di cancel atau delay. Baru kali ini selama sejarah republik ini bencana akibat siklon tropis ini terjadi. Biasanya siklon tropis agak jauh dari wilayah kita dan imbasnya hanya ekornya saja sehingga dampaknya tidak separah beberapa waktu yang lalu. Imbas ekor siklon tersebut biasanya hanya menyebabkan gelombang tinggi dan hambatan besar pada transportasi laut, tidak sampai pada peningkatan hujan ekstrim di wilayah kita. Oleh karena itu, ini merupakan sejarah bagi negeri ini. Bukan tidak mungkin di masa mendatang kejadian serupa akan makin sering terjadi.
Belajar dari pengalaman kejadian akibat siklon tersebut maka beberapa langkah perlu diambil. Peningkatan kemampuan ramalan cuaca harus makin ditingkatkan. Sinergi antara lembaga BMKG dengan lembaga penelitian dan perguruan tinggi harus makin ditingkatkan. Ketepatan ramalan cuaca seiring dengan peningkatan kemampuan SDM dalam teori, observasi dan modelling. Sudah tidak pada tempatnya bahwa urusan peningkatan kemampuan ramalan cuaca ini urusan bidang meteorologi dan klimatologi saja. Semua disiplin ilmu bisa masuk dalam masalah ini. Pendekatan multidisiplin dan interdisipliner harus dikembangkan agar mampu menjawab keinginan dan kebutuhan masyarakat.
Jumlah stasiun-stasiun pengamat permukaan harus sedapat mungkin disesuaikan dengan ketentuan WMO (world meteorological organization) dengan kemampuan pengamat yang memadai. Stasiun pengamat permukaan ini sangat dibutuhkan dalam memperbaiki kualitas kemampuan model prediksi. Meskipun kemampuan satelit dan radar juga makin meningkat namun stasiun pengamat permukaan ini masih sangat penting dan dibutuhkan di masa-masa mendatang. Kemampuan model prediksi area terbatas akan sangat terdukung dengan adanya stasiun pengamat permukaan yang beroperasi dengan optimal. Kita telah mempunyai BMKG yang cukup handal dalam menangani berbagai permasalahan terkait meteorologi, klimatologi, dan geofisika serta kelautan di tanah air. Meskipun demikian, kemampuan sumber daya manusianya harus terus menerus di up grade agar makin memenuhi harapan masyarakat. Ramalan cuaca yang ketepatannya baru 65-70% harus ditingkatkan sampai 85% misalnya meskipun ini merupakan tantangan yang sangat berat. Penelitian dan pengembangan (litbang) BMKG juga harus bisa mengarahkan BMKG ini menuju pencapaian tersebut. 
Pendekatan kesejahteraan harus juga diperhatikan agar para pelaksana di tingkat lapangan bisa menghasilkan data yang baik, penelitian yang bagus, dan layanan informasi kepada masyarakat. Undang-undang MKG yang hanya menuntut kemampuan prima di tingkat lapangan serta punishment yang cukup berat ketika mereka melalaikan tugasnya seharusnya diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan mereka baik lahir maupun batin. 
BMKG juga harus makin lincah dalam melayani masyarakat dengan tetap mengedepankan prinsip ramping organisasi padat fungsi. Kendala struktural dan kultural harus ditangani secara luwes agar BMKG menjadi makin cantik dan menarik hati seperti yang diinginkan masyarakat. Semoga! Aamiin 3x YRA.

Rabu, 04 Oktober 2017

Weather and Climate Literacy untuk SMA/MA se Indonesia

Silahkan memanfaatkan kesempatan ini, karena tidak hanya Bandung Jawa Barat saja namun untuk seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kontak para contact persons nya ya.